• Rab. Agu 5th, 2026

Ekonomi Lampung Triwulan II-2026 Tumbuh 5,29 Persen, Tertinggi Kedua di Sumatera

Bandar Lampung – d-actual.id

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung mencatat kinerja ekonomi Lampung pada Triwulan II-2026 menunjukkan pertumbuhan yang positif. Berdasarkan rilis Berita Resmi Statistik (BRS) pada Rabu (5/8), pertumbuhan ekonomi Provinsi Lampung Triwulan II-2026 tumbuh 5,29% secara year-on-year (y-on-y). Angka ini menjadikan Lampung sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua di seluruh Sumatera, berada tepat di bawah Kepulauan Riau yang mencapai 6,99%. Sementara itu, secara kumulatif perekonomian Provinsi Lampung pada semester I-2026 (Januari–Juni) tercatat tumbuh sebesar 5,43% cumulative-to-cumulative (c-to-c).

Kepala BPS Provinsi Lampung menjelaskan bahwa nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lampung pada Triwulan II-2026 atas dasar harga berlaku (ADHB) mencapai Rp147,91 Triliun, sementara atas dasar harga konstan (ADHK) mencapai Rp80,07 Triliun. Bila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, ekonomi Lampung di Triwulan II-2026 juga mencatatkan pertumbuhan yang solid sebesar 9,03% secara quarter-to-quarter (q-to-q).

Dari sisi produksi (lapangan usaha), seluruh sektor utama penggerak ekonomi mencatatkan pertumbuhan. Sektor Pengadaan Listrik dan Gas menjadi motor penggerak tercepat dengan lonjakan pertumbuhan mencapai 10,30%, yang didorong oleh peningkatan produksi dan penjualan listrik. Pertumbuhan tertinggi selanjutnya disusul oleh sektor Perdagangan sebesar 7,98% serta Industri Pengolahan sebesar 6,99%. Pertumbuhan pada Industri Pengolahan utamanya ditopang oleh peningkatan produksi industri makanan, terutama penggilingan padi, gula, dan tapioka.

Struktur ekonomi Lampung secara fundamental masih bertumpu pada tiga sektor utama yang memberikan porsi penyumbang (share) terbesar terhadap total PDRB. Rinciannya adalah sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan memimpin dengan pangsa sebesar 28,35%, diikuti oleh Industri Pengolahan sebesar 18,56%, dan Perdagangan sebesar 14,27%.

Beralih ke sisi pengeluaran, berbagai komponen menunjukkan tren pertumbuhan. Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) tampil dengan laju pertumbuhan tertinggi mencapai 12,80%, didorong oleh meningkatnya realisasi program-program pemerintah. Selanjutnya diikuti oleh Konsumsi Lembaga Non-Profit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) yang tumbuh 7,89% dan Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT) yang tumbuh 4,86%.

Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga tetap menjadi pendorong utama ekonomi dengan porsi mayoritas sebesar 61,08% terhadap PDRB. Selain itu, pangsa pengeluaran terbesar lainnya ditopang oleh Ekspor (41,02%) dan Pembentukan Modal Tetap Bruto/PMTB (18,00%).

Prestasi ekonomi Lampung kian terlihat dalam skala regional di Pulau Sumatera. Pada Triwulan II-2026, Provinsi Lampung berhasil menyumbangkan kontribusi sebesar 10,14% terhadap total PDRB Sumatera. Dengan capaian ini, Lampung menempati urutan keempat sebagai penyumbang perekonomian terbesar di Sumatera, setelah Sumatera Utara (23,37%), Riau (23,33%), dan Sumatera Selatan (13,64%).

Keadaan Ketenagakerjaan Lampung Mei 2026: Tingkat Pengangguran Mencapai 3,97 Persen di Tengah Penguatan Sektor Informal

Jumlah penduduk usia kerja di Provinsi Lampung pada Mei 2026 tercatat sebanyak 7,27 juta orang, mengalami peningkatan sebanyak 24,46 ribu orang dibandingkan periode Februari 2026. Sejalan dengan kenaikan tersebut, daya serap pasar kerja pada Mei 2026 juga menguat dengan adanya tambahan 35,50 ribu orang yang bekerja. Dengan demikian, total penduduk yang bekerja saat ini telah mencapai angka 4,95 juta orang.

Secara umum, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Lampung mencapai 70,93 persen. Dinamika ini didorong oleh peningkatan partisipasi laki-laki yang naik sebesar 1,55 persen. Sebaliknya, TPAK perempuan justru mengalami penurunan sebesar 1,51 persen jika dibandingkan dengan periode survei sebelumnya.

Di sisi lain, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Provinsi Lampung pada Mei 2026 tercatat pada level 3,97 persen, meningkat 0,02 persen poin dibandingkan pada Februari 2026. Angka ini menandakan adanya sedikit peningkatan jumlah pengangguran sebanyak 2,13 ribu orang, dari 202,32 ribu orang pada Februari 2026 menjadi menjadi 204,45 ribu orang pada Mei 2026.

Namun, masih terdapat disparitas wilayah dan gender yang perlu mendapat perhatian. TPT di wilayah perkotaan pada Mei 2026 sebesar 6,15 persen, lebih tinggi dibandingkan wilayah perdesaan yang sebesar 2,54 persen. Selain itu, tingkat pengangguran perempuan tercatat sebesar 4,19 persen, lebih tinggi dibandingkan pengangguran laki-laki yang berada pada angka 3,84 persen.

Struktur lapangan kerja di Provinsi Lampung saat ini didominasi oleh penyerapan di sektor informal. Proporsi pekerja informal naik menjadi 69,17 persen, sementara pekerja formal turun menyentuh 30,83 persen. Peningkatan daya serap sektor informal ini secara langsung didorong oleh lonjakan status “Pekerja Bebas di Pertanian” yang bertambah sebanyak 62,73 ribu orang.

Berdasarkan distribusinya, sektor Pertanian, Perdagangan, dan Industri Pengolahan tetap menjadi motor utama penyerapan tenaga kerja secara keseluruhan. Adapun jika ditinjau dari sisi tren penambahan pekerja, sektor Administrasi Pemerintahan, Pertanian, serta Akomodasi dan Makan Minum mencatatkan penyerapan pekerja baru tertinggi pada periode ini. Dari sisi kualitas pendidikan angkatan kerja, mayoritas penduduk yang bekerja di Lampung masih didominasi oleh lulusan SD ke bawah dengan proporsi 36,67 persen atau sebanyak 1,82 juta orang.

Sementara itu, partisipasi lulusan Perguruan Tinggi (Diploma keatas) tercatat sebesar 8,46 persen atau sekitar 418,70 ribu orang. Kondisi ini menegaskan bahwa pekerja dengan tingkat pendidikan menengah ke bawah masih menjadi tulang punggung penggerak roda perekonomian Lampung

Kemiskinan Lampung Maret 2026 Turun Menjadi 9,31 Persen: Intervensi dan Pemerataan di Perdesaan Tunjukkan Hasil Positif

Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2026, persentase penduduk miskin di Provinsi Lampung tercatat turun menjadi 9,31 persen. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 0,35 persen poin dibandingkan dengan posisi September 2025.

Secara kuantitas, jumlah penduduk miskin di Lampung pada Maret 2026 mencapai 831,89 ribu orang. Angka ini berkurang signifikan, yakni sebanyak 28,24 ribu orang jika dibandingkan dengan data September 2025.

Tingkat kemiskinan di perdesaan pada Maret 2026 mengalami penurunan menjadi 10,41 persen (turun 0,47 persen poin dibandingkan September 2025), sedangkan perkotaan tercatat sebesar 7,28 persen (turun 0,09 persen poin).

Dari sisi Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1), meskipun secara kumulatif provinsi mengalami sedikit peningkatan menjadi 1,267, wilayah perdesaan justru berhasil mencatatkan perbaikan (penurunan) dari 1,472 (September 2025) menjadi 1,417 (Maret 2026). Hal ini menandakan rata-rata pengeluaran penduduk miskin perdesaan semakin mendekat dan terangkat ke arah garis kemiskinan.

Selain kedalaman, Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) di perdesaan juga menunjukkan progres yang menggembirakan dengan turun dari 0,303 (September 2025) menjadi 0,278 (Maret 2026). Penurunan signifikan di wilayah perdesaan ini menandakan bahwa ketimpangan pengeluaran di antara sesama penduduk miskin semakin menyempit atau kelompok termiskin di desa mulai terangkat secara ekonomi.

Ketimpangan Pengeluaran Penduduk Lampung Maret 2026: Gini Ratio Tercatat 0,290, Pemerataan di Perdesaan Terus Membaik

Pemerataan pengeluaran masyarakat perdesaan terus membaik. Hal ini tercermin dari tingkat ketimpangan (Gini Ratio) perdesaan yang turun dari 0,265 pada September 2025 menjadi 0,260 pada Maret 2026. Sementara itu, secara umum Gini Ratio Provinsi Lampung berada di angka 0,290.

Pada Maret 2026, porsi 40% penduduk berpengeluaran rendah tercatat menurun di perkotaan menjadi 21,96%, sementara di perdesaan meningkat menjadi 24,41%, yang menunjukkan adanya pemerataan pendapatan pada lapisan bawah di pedesaan. Sebaliknya, porsi penduduk kelas menengah (40% menengah) meningkat di perkotaan menjadi 36,52% dan menurun di perdesaan menjadi 38,82%. Porsi penduduk kelompok pengeluaran 20% teratas menurun menjadi 41,52% di perkotaan dan meningkat menjadi 36,77% di perdesaan. (*/RS)